TEORI-TEORI PENDIDIKAN
A. TEORI
PENDIDIKAN KONSTRUKTIVISME
Teori
Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif,
yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan
aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang
bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami
belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan
memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme
sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan
kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman.
Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.
Jika
behaviorisme menekankan ketrampilan atau tingkah laku sebagai tujuan
pendidikan, sedangkan maturasionisme menekankan pengetahuan yang berkembang
sesuai dengan usia, sementara konstruktivisme menekankan perkembangan konsep
dan pengertian yang mendalam, pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat
siswa. Jika seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya, meskipun usianya
tua tetap tidak akan berkembang pengetahuannya. Suatu pengetahuan dianggap
benar bila pengetahuan itu berguna untuk menghadapi dan memecahkan persoalan
atau fenomena yang sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja,
melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang. Pengetahuan
juga bukan sesuatu yang sudah ada, melainkan suatu proses yang berkembang
terus-menerus. Dalam proses itu keaktivan seseorang sangat menentukan dalam mengembangkan
pengetahuannya.
Pendekatan konstruktivisme mempunyai
beberapa konsep umum seperti:
1.
Pelajar aktif membina pengetahuan
berasaskan pengalaman yang sudah ada.
2.
Dalam konteks pembelajaran, pelajar
seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
3.
Pentingnya membina pengetahuan secara
aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara
pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
4.
Unsur terpenting dalam teori ini ialah
seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan
informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
5.
Ketidakseimbangan merupakan faktor
motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar
menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan
ilmiah.
6.
Bahan pengajaran yang disediakan perlu
mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.
Pandangan Konstruktivisme Tentang
Belajar adalah sebagai berikut.
1)
Konstruktivisme memandang bahwa
pengetahuan non objektif, bersifat temporer, selalu berubah dan tidak menentu.
2)
Belajar adalah penyusunan pengetahuan
dari dari pengalaman konkrit, aktifitas kolaboratif dan refleksi dan
interpretasi.
3)
Seseorang yang belajar akan memiliki
pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pengalamannya dan
persepektif yang didalam menginterprestasikannya.
Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya
tentang teori konstruktivisme yaitu sebagai
berikut.
1.
Jean Piaget adalah psikolog pertama yang
menggunakan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuannya dikenal
dengan teori adaptasi kognitif. Sama halnya dengan setiap organisme harus
beradaptasi secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian
juga struktur pemikiran manusia. Manusia berhadapan dengan tantangan, pengalaman,
gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secaca kognitif (mental).
Untuk itu, manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci,
atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalamanpengalaman tersebut.
Dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. Proses
tersebut meliputi:
a. Skema/skemata
adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus
mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema juga
berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan yang
datang, dan terus berkembang.
b. Asimilasi
adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep
awalnya, hanya menambah atau merinci.
c. Akomodasi
adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.
d. Equilibrasi
adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat
menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). Proses perkembangan
intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui
asimilasi dan akomodasi.
2.
Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahwa
murid mempunyai ide mereka sendiri tentang hampir semua perkara, di mana ada
yang betul dan ada yang salah. Jika kefahaman dan miskonsepsi ini diabaikan
atau tidak ditangani dengan baik, kefahaman atau kepercayaan asal mereka itu
akan tetap kekal walaupun dalam peperiksaan mereka mungkin memberi jawapan
seperti yang dikehendaki oleh guru.
John Dewey menguatkan lagi teori
konstruktivisme ini dengan mengatakan bahwa pendidik yang cekap harus
melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina
pengalaman secara berterusan. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan
murid di dalam setiap aktiviti pengajaran dan pembelajaran.
Penerapan
teori konstruktivisme sebagai berikut :
a.
Mendorong kemandirian dan
inisiatif siswa dalam belajar
Dengan menghargai gagasan-gagasan atau
pemikiran siswa serta mendorong siswa berpikir mandiri, berarti guru telah
membantu siswa menemukan identitas intelektual mereka. Para siswa yang
merumuskan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian menganalisis serta menjawabnya
berarti telah mengembangkan tanggung jawab terhadap proses belajar mereka
sendiri serta menjadi “pemecah masalah” (problem solvers).
b.
Guru mengajukan pertanyaan terbuka dan
memberikan kesempatan beberapa waktu kepada siswa untuk merespon
Berpikir reflektif memerlukan waktu yang
cukup dan seringkali atas dasar gagasan-gagagsan dan komentar orang lain.
Cara-cara guru mengajukan pertanyaan dan cara siswa merespon atau menjawabnya
akan mendorong siswa mampu membangun keberhasilan dalam melakukan penyelidikan.
c.
Mendorong siswa berfikir
tingkat tinggi
Guru
yang menerapkan proses pembelajaran konstruktivisme akan menantang para siswa
untuk mampu menjangkau hal-hal yang berada di balik respon-respon faktual yan
sederhana. Guru mendorong siswa untuk menghubungkan dan merangkum konsep-konsep
melalui analisis, prediksi, justifikasi, dan mempertahankan gagasan atau
pemikirannya.
d.
Siswa terlibat secara aktif dalam dialog
atau diskusi dengan guru dan siswa lainnya
Dialog dan diskusi yang merupakan interaksi sosial dalam
kelas yang bersifat intensif sangant membantu siswa untuk mampu mengubah atau
menguatkan gagasan-gagasannya. Jika mereka memiliki kesempatan untuk
mengemukakan apa yang mereka pikirkan dan mendengarkan gagasan orang lain, maka
mereka akan mampu membangun pengetahuan sendiri yang didasarkan atas pemahaman
sendiri. Jika merasa nyama dan aman untuk mengemukakan gagasan-gagasannya, maka
dialog yang sangat bermakna akan tercipta di kelas.
B. TEORI
PENDIDIKAN BEHAVIORISME
Teori
behaviorisme adalah teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku
manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap
lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
Menurut
teori belajar ini adalah perubahan tingkah laku, seseorang dianggap belajar
sesuatu bila ada menunjukkan perubahan tingkah laku. Misalnya, seorang siswa
belum bisa membaca maka betapapun gurunya berusaha sebaik mungkin mengajar atau
bahkan sudah hafal huruf A sampai Z di luar kepala, namun bila siswa itu gagal
mendemonstrasikan kemampuannya dalam membaca, maka siswa itu belum bisa
dikatakan belajar. Ia dikatakan telah belajar apabila ia menunjukkan suatu
perubahan dalam tingkah laku (dari tidak bisa menjadi bisa membaca). Dengan
kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal
kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil
interaksi antara stimulus dan respon.
Menurut teori ini yang terpenting
adalah masukan atau input yaitu berupa stimulus dan keluaran atau output yang
berupa respons. Sedangkan apa yang terjadi diantara stimulus dan respons itu
dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati. Yang bisa diamati
adalah stimulus dan respons, misalnya stimulus adalah apa saja yang diberikan
guru kepada siswa tersebut dalam rangka membantu siswa untuk belajar. Stimulus
ini berupa rangkaian alfabet, beberapa kalimat atau bacaan, sedangkan respons
adalah reaksi siswa terhadap stimulus yang diberikan gurunya.
Tokoh-tokoh yang ahli dalam
mengembangkan teori pendidikan behavioristik sebagai berikut.
1. Edward
Lee Thorndike (1874-1949)
Menurut
Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi anatara
peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori
“connectionism”. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan
pada sangkar tertutup yang apabila pintunya dapat dibuka secara otomatis bila
knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan
Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error Yaitu : adanya aktivitas, ada
berbagai respon terhadap berbagai situasi, adal eliminasai terhadap berbagai respon
yang salah, ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.
2. Ivan
Petrovich Pavlo (1849-1936) dan Watson
Pavlo mengadakan percobaan
laboratories terhadap anjing. Dalam percobaan ini anjing di beri stimulus
bersarat sehingga terjadi reaksi bersarat pada anjing. Contoh situasi percobaan
tersebut pada manusia adalah bunyi bel di kelas untuk penanda waktu tanpa
disadari menyebabkan proses penandaan sesuatu terhadap bunyi-bunyian yang
berbeda dari pedagang makan, bel masuk, dan antri di bank. Dari contoh tersebut
diterapkan strategi Pavlo ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara
mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan
pengulangan respon yang diinginkan. Sementara individu tidak sadar dikendalikan
oleh stimulus dari luar. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses
perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang
terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan
pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara
otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.
Sebagai
contoh dari teori Behavioristik sebagai berikut:
Seorang guru yang mengajar
menggunakan teori ini kepada seorang anak yang belum dapat berhitung perkalian.
Walaupun ia sudah berusaha giat dan gurunya pun telah mengajarkannya dengan
tekun, tetapi bila anak itu belum mempraktekkan perhitungan perkalian, maka
anak tersebut belum bisa dianggap belajar, karena ia belum bisa menunjukan
perubahan perilaku sebagai hasil belajar.
Dari contoh diatas, stimulus adalah
apasaja yang diberikan oleh guru kepada siswa. Misalnya daftar perkalian, alat
peraga, pedoman kerja atau cara-cara tertentu untuk membantu belajar siswa.
Sedangkan respon adalah reaksi atau tanggapan siswa atau pelajar terhadap stimulus
yang diberikan oleh guru tersebut.
C. TEORI
KOGNITIF
Kognitif
adalah salah satu ranah dalam taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif
diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan; pengetahuan (knowledge), pemahaman
(comprehention), penerapan (aplication),
analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti
persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional
(akal).
Teori
kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan
kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif
berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan
perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang
datang kepada dirinya.
Teori kognitif merupakan suatu
bentuk teori belajar yang sering disebut sebagai model perseptual, yaitu proses
untuk membangun atau membimbing siswa dalam melatih kemampuan mengoptimalkan
proses pemahaman terhadap suatu objek. Teori kognitif menyatakan bahwa tingkah
laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang
berhubungan dengan dirinya. Belajar merupakan perubahan persepsi dan pemahaman
yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku yang nampak.
1. Teori
Perkembangan Piaget
Menurut
Piaget, perkembangan kognitif seseorang atau siswa adalah suatu proses yang
bersifat genetik. Artinya proses belajar itu di dasarkan atas mekanisme
biologis perkembangan sistem syarat. Oleh sebab itu makin bertambahnya umur
seorang siswa, mengakibatkan kompleksnya susunan sel-sel syaraf dan juga makin
meningkatkan kemampuannya khususnya dalam bidang kualitas intelektual
(kognitif).
2.
Teori Belajar Brunner
Jerome
S Brunner adalah seorang ahli pendidikan yang setuju dengan teori kognitif, hal
ini didasarkan atas asumsi bahwa pembelajaran adalah proses untuk membangun
kemampuan mengembangkan potensi kognitif yang ada dalam diri siswa.
Perkembangan kualitas kognitif ditandai dengan ciri-ciri umum:
a.
Kualitas intelektual ditandai dengan
adanya kemampuan menanggapi rangsangan yang datang pada dirinya. Artinya,
semangkin mampu menanggapi rangsangan semangkin besar peluang kualitas kognisi
diwujudkan. Pembelajaran merupakan salah satu upaya atau proses untuk melatih
dan membimbing siswa dalam melakukan tanggapan terhadap rangsangan yang datang
ke dalam dirinya.
b.
Kualitas atau peningkatan pengetahuan
seseorang ditentukan oleh perkembangan sistem penyimpanan informasi secara
realis. Artinya semangkin lama mampu menyimpan informasi maka kualitas dan
peningkatan pengetahuan akan mudah diwujudkan. Pembelajaran merupakan salah
satu proses untuk melatih dan membimbing siswa agar memiliki kemampuan
menyimpan informasi yang diperoleh dari realitas lapangan.
c.
Perkembangan kualitas kognitif bisa
dilakukan dengan cara melakukan interaksi secara sistematis antara pembimbing,
guru atau orang tua. Oleh sebab itu jaringan kerja sama intensif antara
sekolah, masyarakat dan orang tua menjadi penting dalam konteks pembelajaran.
Tri Sentra Pendidikan (tiga pusat pendidikan) perlu dikembangkan secara komprehensif
dan simultan agar pengembangan kualitas intelektual (kognitif) siswa benar-benar
dapat diwujudkan.
d.
Kemampuan kognitif juga ditentukan oleh
kemampuan dalam mendeskripsikan bahasa, karena bahasa merupakan alat komunikasi
manusia. Untuk memahami konsep-konsep yang ada diperlukan bahasa untuk
mengkomunikasikan suatu konsep kepada orang lain.
e.
Kualitas perkembangan kognitif juga bisa
ditandai dengan keterampilan untuk menggunakan beberapa alternatif penyelesaian
masalah secara simultan dan melaksanakan alternatif sesuai dengan realitas.
f.
Jerume S Brunner mengemukakan bahwa
pembelajaran itu dipengaruhi oleh dinamika perkembangan relitas yang ada
disekitar kehidupan siswa. Asumsi ini lebih dikenal dengan teori free discovery
learning, artinya proses pembelajaran akan efektif dan efesien jika guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan
atau pemahaman melalui contoh-contoh yang mereka jumpai dalam kehidupannya.
3. Teori Belajar David Ausubel
Menurut Ausubel, siswa akan belajar
dengan baik jika “pengatur kemajuan (belajar)” didefinisikan dan
dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar
adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi
pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. David Ausubel merupakan salah satu
tokoh ahli psikologi kognitif yang berpendapat bahwa keberhasilan belajar siswa
sangat ditentukan oleh kebermaknaan bahan ajar yang dipelajari. Ausubel menggunakan
istilah “pengatur lanjut” (advance organizers) dalam penyajian informasi yang
dipelajari peserta didik agar belajar menjadi bermakna. Selanjutnya dikatakan
bahwa “pengatur lanjut” itu terdiri dari bahan verbal di satu pihak, sebagian
lagi merupakan sesuatu yang sudah diketahui peserta didik di pihak lain. Dengan
demikian kunci keberhasilan belajar terletak pada kebermaknaan bahan ajar yang
diterima atau yang dipelajari oleh siswa. Ausubel tidak setuju dengan pendapat
bahwa kegiatan belajar penemuan lebih bermakna dari pada kegiatan belajar.
Dengan ceramahpun asalkan informasinya bermakna bagi peserta didik, apalagi
penyajiannya sistimatis akan diperoleh hasil belajar yang baik pula. Ausubel
mengidentifikasikan empat kemungkinan tipe belajar, yaitu:
a. Belajar dengan penemuan yang bermakna.
b. Belajar dengan ceramah yang bermakna.
c. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna.
d. Belajar dengan ceramah yang tidak bermakna.
Dia berpendapat bahwa menghafal
berlawanan dengan bermakna, karena belajar dengan menghafal, peserta didik
tidak dapat mengaitkan informasi yang diperoleh itu dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Dengan demikian bahwa belajar
itu akan lebih berhasil jika materi yang dipelajari bermakna.
D. TEORI
PENDIDIKAN HUMANISME
Humanisme
lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini
melihat kejadian yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk melakukan
hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai potensi
manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya memfokuskan
pengajarannya pada pembangunan kemampuan positif ini.
1. Abraham
Maslow
Maslow
mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan
yang bersifat hirarkis. Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan
atau hirarki, adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah
a. Kebutuhan
aktualisasi diri
b. Kebutuhan
untuk dihargai
c. Kebutuhan
untuk dicintai dan disayangi
d. Kebutuhan
akan rasa tenteram dan aman
e. Kebutuhan
fisiologi/dasar
2. Arthur
Combs
Guru
tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan
kehidupan siswa. Guru harus memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami
dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru
harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Combs
memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran
(besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu yaitu lingkaran kecil dan
lingkaran besar.
3. Carl
Roger
Carl
Rogers adalah seorang psikolog humanisme yang menekankan perlunya sikap saling
menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah
kehidupannya. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah
pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran serta juga
sejumlah
Penerapan
Teori Humanisme
Aplikasi
teori humanisme dalam pembelajaran, guru lebih mengarahkan siswa untuk berpikir
induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara
aktif dalam proses belajar. Hal ini diterapkan melalui kegiatan diskusi,
membahas materi secara berkelompok. Pembelajaran berdasarkan teori humanisme
ini cocok untuk diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat
pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap
fenomena sosial
Penerapan
Teori Belajar Humanisme
Menurut
Gage dan Berliner, prinsip dasar dari pendekatan humanisme untuk mengembangkan
pendidikan : Murid akan belajar dengan baik apa yang mereka mau dan perlu
ketahui. Mengetahui bagaimana cara belajar lebih penting daripada membutuhkan
banyak pengetahuan. Evaluasi diri adalah satu satunya evaluasi yang berarti
untuk pekerjaan murid. Perasaan adalah sama penting dengan kenyataan. Murid
akan belajar dengan lebih baik dalam lingkungan yang tidak mengancam
Teori humanisme merupakan konsep
belajar yang lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Berfokus
pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya
dan mengembangkan kemampuan tersebut. Teori humanisme ini cocok untuk
diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena
sosial. Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.
Guru yang baik menurut teori ini
adalah Guru yang memiliki rasa humor, adil, menarik, lebih demokratis, mampu
berhubungan dengan siswa dengan mudah dan wajar. Ruang kelas lebih terbuka dan
mampu menyesuaikan pada perubahan. Sedangkan guru yang tidak efektif adalah
guru yang memiliki rasa humor yang rendah ,mudah menjadi tidak sabar ,suka
melukai perasaan siswa dengan komentar yang menyakitkan, bertindak agak
otoriter, dan kurang peka terhadap perubahan yang ada.
E. TEORI BELAJAR SOSIAL
Teori Pembelajaran Sosial merupakan perluasan dari
teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori
pembelajaran social ini dikembangkan oleh Albert Bandura (1986). Teori ini
menerima sebagian besar dari prinsip – prinsip teori – teori belajar perilaku,
tetapi memberikan lebih banyak penekanan pada kesan dan isyarat – isyarat
perubahan perilaku, dan pada proses – proses mental internal. Jadi dalam teori
pembelajaran social kita akan menggunakan penjelasan – penjelasan reinforcement
eksternal dan penjelasan – penjelasan kognitif internal untuk memahami
bagaimana belajar dari orang lain. Dalam pandangan belajar social “ manusia “
itu tidak didorong oleh kekuatan – kekuatan dari dalam dan juga tidak
dipengaruhi oleh stimulus – stimulus lingkungan.
Ada dua jenis pembelajaran melalui pengamatan ,
1. Pembelajaran melalui pengamatan dapat terjadi
melalui kondisi yang dialami orang lain,
2. Pembelajaran melalui pengamatan meniru perilaku
model meskipun model itu tidak mendapatkan penguatan positif atau penguatan
negatif saat mengamati itu sedang memperhatikan model itu mendemonstrasikan
sesuatu yang ingin dipelajari oleh pengamat tersebut dan mengharapkan mendapat
pujian atau penguatan apabila menguasai secara tuntas apa yang dipelajari itu.
Model tidak harus diperagakan oleh seseorang secara langsung, tetapi kita dapat
juga menggunakan seseorang pemeran atau visualisasi tiruan sebagai model (Nur,
M,1998).
Contohnya seperti seorang pelajar melihat
temannya dipuji dan ditegur oleh gurunya karena perbuatannya, maka ia kemudian
meniru melakukan perbuatan lain yang tujuannya sama ingin dipuji oleh gurunya.
Kejadian ini merupakan contoh dari penguatan melalui pujian yang dialami orang
lain.
Daftar
Pustaka
Ahmad Susanto. Teori Belajar dan
Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta. Prenadamedia
Group

Tidak ada komentar:
Posting Komentar